Jangan Gadaikan Akhirat-mu Untuk Dunia-mu

#NOVEMBER 2010#
(Bagian ke 1)

Musim haji tahun 2010, undangan itu datang di bulan November, hari pertama ku di Madinah, ku masuki masjid Nabawi yg megah di waktu dhuhur dan saat berangkat dari hotel tidak lupa ku bawa Al Quran terjemahan terbitan Daarul Tauhid yg masih gres dibungkus plastik.

Selesai sholat dhuhur sebagai shalat ku yg pertama dalam rangkaian sholat arbain, akupun berniat menunggu ashar di Nabawi, sambil menunggu waktu akupun iseng utk membuka halaman Al Quran itu secara acak hanya sekedar ingin tahu surat dan ayat apa yg akan terbuka …ternyata Al Baqarah 275, akupun menutup kembali halaman itu dan mulai membaca Al Quran terjemahan itu mulai dari Surat Al Fatihah.

Hari kedua di waktu yg sama aku ulangi lagi membuka Al Quran tersebut secara acak dan terbuka kembali Al Baqarah 275, mulailah rasa penasaran itu muncul utk mengetahui menyampaikan apa sebenarnya Al Baqarah 275 itu….ternyata ayat mengenai riba.

Saat itu aku pun jadi teringat ibu ku, aku teringat kejadian tahun 2004 dimana ibu ku disaat sakitnya memanggilku ke rumah nya hanya utk bertanya ” Apakah kamu bekerja di tempat yg benar ?”, dan akhir dari pertemuan itu di tutup dengan pesan ibu ku ” Jangan kau gadaikan akherat mu hanya utk dunia mu “…dan 2 bulan dari pertemuan itu ibu ku pun pulang menghadap ALLAH.

6 tahun lebih aku tidak menghiraukan pesan terakhir ibu ku itu, bahkan hampir aku lupakan…tapi di hari ke 2 di Nabawi inilah kalimat itu terngiang2 di telingaku dan membuat perasaan ku jadi gelisah tidak jelas.

Hari ke 3 setelah sholat Isya akupun berniat dalam hati utk bertemu dengan Aa Gym yg saat itu menjadi pimpinan rombonganku, ingin bertanya mengenai riba dan kegelisahanku ini. Maha besar ALLAH…saat akan sholat subuh ke Nabawi akupun bertemu dengan Aa Gym saat beliau keluar dari kamarnya utk subuhan juga, di lift hotel akupun meminta waktu nya utk berdiskusi dan beliau langsung bilang kenapa harus cari waktu…sekarang aja kita ngomong sambil jalan ke masjid. Akupun menyampaikan kalau aku bekerja di bank dan ibuku pernah menasehati ku serta kejadian 2 hari sebelumnya di Nabawi, harapan ku beliau akan menjelaskan pada ku mengenai riba , tapi ternyata tidak…beliau hanya menjawab dengan satu kalimat pembuka yg diluar dugaanku. Dengan enteng beliau menjawab …”Itu artinya kamu harus Hijrah” …walaupun aku mendengar dengan jelas jawaban itu tapi aku mengulangi pertanyaan ” Maaf A’…maksud Aa apa ?”. Beliaupun menjawab dengan tegas ” Cari pekerjaan lain…semua kejadian itu sudah dengan jelas memberi petunjuk kamu utk hijrah, yang bicara pada mu itu Ibu mu…ibu mu !! siapa lagi yg kamu tunggu utk mengingatkan kamu kalau wakil ALLAH di dunia ini (ibu mu) sudah menyampaikan nya”….

Bagaikan ditampar dengan besi aku mendengar jawaban itu….bertahun2 aku bekerja sebagai pegawai bank dengan penghasilan yang sangat mencukupi dan segala fasilitas yg aku dapatkan dan dengan enteng Aa Gym menyuruh aku utk meninggalkan itu semua….diriku belum mau menerima kenyataan ini.

Setelah ke jadian di subuh hari itu , aku masih mencoba untuk bertemu lagi dengan Aa Gym…suatu hari saat akan pergi ke masjid Quba aku lihat beliau duduk di kursi bus bagian belakang dan aku pun mencoba mendatanginya, belumlah sampai ke tempatnya beliau sudah bilang ” masih mau tanya tentang yg kemarin ?….tanpa menunggu jawabanku beliau pun langsung menjawab sendiri ” jawabannya tetap sama…hijrah”.

Dan usaha ini aku lakukan bukan hanya sekali tapi 3 kali dan jawaban beliau selalu sama HIJRAH tanpa memberiku waktu utk berdebat.

Semakin galau diriku….sholat selalu diiringi oleh tangisan, tangisan itu bukan krn aku bersyukur, bukan krn aku mencintai ALLAH….tapi krn aku takut kehilangan pekerjaan, jabatan, gaji dan fasilitas serta membayangkan kesulitan hidup aku dan keluarga ku…apabila aku meninggalkan pekerjaan ku.

Ya ALLAH mengapa Engkau berikan kejadian ini padaku.

#NOVEMBER 2010#
(Bagian ke 2)

Hari berikutnya ku masuki Nabawi dengan penuh ke galauan…bingung…ketakutan akan kehilangan pekerjaan benar2 sudah terasa walaupun aku masih di Madinah, kebingungan utk merangkai kata menjelaskan kepada isteri ku saat aku tiba di Jakarta kelak, dimana pasti sangat tidak mudah baginya untuk menerima ini, dimana dia sendiri tdk berangkat berhaji bersamaku saat itu.

Kudapati kesempatan utk berdoa di Raudhoh beberapa kali, namun lebih banyak tangisan yg aku lakukan daripada berdoa nya…bahkan untuk mengucapkan doa “Ya ALLAH kuatkan Imanku” pun aku takut…takut kalau ALLAH mengabulkannya dan akhirnya aku akan tinggalkan pekerjaan ku…Ya ALLAH maafkan hamba MU ini…

Malam terakhir di Madinah,

Selesai shalat magrib aku memang berniat utk tidak pulang ke hotel krn aku berniat utk beli kebab yg di jual di dekat hotel yg selalu aku lihat ramai pengunjungnya. Dan selalu saat setelah shalat magrib, jamaah akan segera kembali ke hotel utk makan malam sebelum nanti saat Isya kembali lagi ke masjid krn kadang kalau terlambat datang ke hotel makanan yg tersedia hanya tinggal sisa2 saja.

Terasa lengang sekali Nabawi yg besar itu di tinggalkan para jamaah…terlihatlah hamparan karpet merah yg biasanya selalu sesak oleh jamaah…sambil menunggu shalat Isya aku pun membaca kembali terjemahan Al Quran yg selalu aku bawa dan karena sepinya jamaah akupun membaca sambil merebahkan diri (posisi tidur).

10 menit aku sdg menikmati posisi “PW” …dari kejauhan aku melihat ada 3 orang berkebangsaan arab yang jalan menuju ke arah ku. Satu orang yg tertua berjalan sedikit didepan dari 2 orang yg lebih muda. Sampailah si orang tua ini di dekatku lalu diapun menunduk dan mencolek pundakku yg masih dalam posisi berbaring seraya berkata..”boleh saya duduk di sebelah mu ?” dengan bahasa Inggris yg sederhana. Dan akupun mempersilahkannya dengan hanya menggunakan bahasa isyarat tanpa merubah sedikitpun posisi ku yang berbaring itu.

Si orang tua itu aku lihat mengeluarkan Al Quran kecil dari dalam kantong bajunya dan sambil duduk bersila disebelahku dia membaca Al Quran tsb, sementara aku pun masih asik membaca Al Quran ku sambil berbaring. Sedangkan ke 2 orang yg muda juga bersila tdk jauh dari orang tua itu.

10 menit kemudian si orang tua kembali mencolek pundak ku krn memang kami posisi nya cukup berdekatan. Lalu dia pun membuka pembicaraan dengan kalimat tanya ” Indonesia….Indonesia ?”..sambil jarinya menunjuk pada ku dan langsung aku jawab ” yes I am Indonesia”….lalu dia menyambungnya dgn pertanyaan ke dua, pertanyaan kedua nya inilah yg sebenarnya tdk pernah aku sangka2 krn menurutku ini pertanyaan yg kurang pas di lakukan pada pertemuan pertama seperti ini tanpa ada pembicaraan awal sebelumnya…. “Kamu bekerja dimana ? “…akupun menjawab dengan kalimat yg saat itu ada di otakku tanpa memikirkan apakah dia akan mengerti maksud ku “Perbankan” …dan begitu sadar akupun menegaskan kembali jawaban ku ” in bank…I am Banker”.

Si orang tua itupun terdiam sejenak mendengar jawabanku. Tidak berapa lama diapun bicara lagi…” KAMU BEKERJA DI TEMPAT YG SALAH…SAUDARAKU”……

Mendengar kalimatnya ini akupun langsung merespon dalam hati ku sendiri…” Ya ALLAH …apalagi kah ini ?”

Kalimat berikutnya yg keluar dari mulut si orang tua itu adalah ” Untuk apa kamu jauh2 datang dari Indonesia kesini ? …saya yakin kamu datang ke sini karena kamu percaya kepada ALLAH…tapi mengapa kamu tidak percaya pada kalimat ALLAH ?…dibukanya Quran kecil yg tadi dibaca nya pada surat AL BAQARAH ayat 275, sambil menunjukkannya pada ku.

Disaat bersamaan kedua orang muda yg duduk di sebelahnya berdiri kearah ku dan meminta aku utk bangun dari posisi berbaring dengan isyarat tangan (memang kurang ajar sekali aku saat itu krn ada orang tua ngomong dan aku masih berbaring). Dan aku pun duduk bersila di sebelah si orang tua tadi.

Lalu si tua itu menunjukkan surat Al baqarah tadi dengan tangannya sambil menterjemahkan arti surat tersebut dlm bahasa Inggris yg setengah2…dia tdk memperhatikan aku yg sudah mulai menitikkan air mata dengan perasaan yg berkecamuk sambil jariku mencoba mencari surat Al Baqarah di Quran ku yg sudah aku tandai halamannya …lalu aku tunjukkan halaman itu pada orang tua ini sambil aku ngomong ” yang inikan maksud mu !”…lalu diapun melihat Al Quran ku yg di sebelah tulisan arab nya ada tulisan berbahasa Indonesia sambil bilang….”bukankah ini bahasa mu ?…lalu alasan apalagi kamu utk tdk mengerti ?…

Pecahlah tangisanku di hadapan orang tua ini…..

Aku hanya menjawab…” aku sdg berusaha…aku sdg berusaha “…diselingi suara tangisku.

Dan yg membuat tangis ku semakin menjadi …ketika dia merangkulku sambil berucap “aku akan doakan kamu..” lalu diapun menepuk2 perlahan pipiku sambil berucap “kamu harus kuat saudaraku..kamu harus kuat”….seperti anak kecil dia memperlakukan diri ku dan akupun merasa di pundak ku basah…ternyata si orang tua ini pun menangis saat dia memelukku…..

Adzan Isya pun berkumandang, jamaah sudah mulai banyak berdatangan …dan kamipun harus berdiri utk mengisi syaf yg kosong, disitulah kami terpisah dan tidak kulihat lagi mereka bertiga.

Lengkaplah sudah ALLAH membolak-balikan hati ku…mulai dari hari pertama memasuki Nabawi hingga hari terakhir. Seolah2 ALLAH tidak memberikan aku ruang utk berdebat lagi…

Ke 3 orang arab tadi sebenarnya bisa memilih tempat utk duduk dimana saja di masjid Nabawi ini yg saat itu sdg sepi…lalu mengapa mereka memilih duduk disebelah ku…

Lalu apa perlu nya si orang tua itu bertanya mengenai pekerjaanku ?…bahkan namaku saja tidak dia tanyakan.

Aku teringat kalimat Aa’ Gym waktu aku temui beliau yg ke 3…” Tidak ada satupun kejadian di dunia ini terjadi tanpa ada izin ALLAH, bahkan daun jatuh pun terjadi atas izin ALLAH…apakah kamu tidak percaya kalau pertemuan kita waktu subuh di lift saat akan ke masjid itu adalah skenario ALLAH ?”…

ALLAH benar2 ingin membuatku tidak bisa mengelak lagi…..sehingga saat itu pilihan ku hanyalah …HIJRAH…atau …TUNGGU DATANGNYA AZAB ALLAH.

Insyaallah bersambung….

EL CANDRA
XBank